Sabtu, 06 April 2013

KADO UNTUK ANNIDA

Subhanallah hari ini memang terasa lebih terik dari pada hari biasanya, bahkan seakan panas hari ini telah mematahkan semangat untuk beraktivitas di luar rumah. Keadaan ini berbeda ketika masih di pesantren dulu, walaupun hari terik, agenda padat, istirahat tak sempat tapi kami tetap jalani semua itu dengan semangat. 
Aku habiskan hari sabtu ini hanya berdiam diri dalam rumah, 2 juz Qur’an telah ku baca bahkan aku bisa menambah hafalanku sampai 3 lembar, subhanallah aku benar-benar tak ingin menghabiskan waktu ku hanya untuk sesuatu tak bermanfaat. Seminggu setelah ke pulanganku dari pesantren, aku lebih banyak berdiam diri di rumah, aku masih ingin menenangkan kegundahan hati atau lebih tepatnya mengobati kesedihan karena tak adanya restu dari Abah untuk kuliah S2 ku di Al-Azhar Kairo, sebagian dari sahabatku bulan depan setelah lebaran sudah harus hijrah ke Kairo untuk melanjutkan impian besar mereka. Berbeda denganku yang harus mengubur dalam-dalam harapan besar itu. Dada masih terasa sesak ketika teringat abah kala itu berkata “Annida sudah menjadi wanita dewasa dan saat ini ayah ingin menunaikan kewajiban yang terakhir yaitu untuk memilihkan calon pendamping hidup annida”. Seakan ada badai yang menghujam dalam dada, ada perasaan sedih, bingung bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana harus menggambarkan, rasanya aku ingin teriak sekuat-kuatnya meluapkan kegundahan yang ada. Telah kucoba menjelaskan semuanya ke Abah tentang keinginanku belajar di Kairo, tapi Abah belum bisa menanggapinya dengan baik. Abah tidak bisa lagi menolok lamaran-lamaran yang ada, terakhir lamaran datang dari Jakarta Anak dari teman Pakde Hafiz sewaktu kuliah di Yaman. 
*** 
Sebagai anak aku ingin patuh akan titah orang tua tapi di sisi lain Aku punya harapan besar bahkan harapan ini telah tertanam dalam hati dan pikiran sejak kecil. Aku ingin melanjutkan belajar tapi orang tua menginginkan untuk segera menikah. Pada hakikatnya Aku tak menyalahkan sikap Abah, karena nikah merupakan bagian dari ibadah. Dari kecil Aku selalu berusaha patuh akan nasihat orang tua salah satunya sesuatu yang berhubungan dengan hati. Teringat akan nasihat-nasihat Abah kala Aku masih SD, Abah selalu berpesan “tak ada kata pacar selama belajar”. Dan kata singkat itu pun masih selalu di sampaikan hingga Aku sarjana, Begitulah salah satu cara Abah menunjukkan sayang pada anak-anaknya. Aku tersenyum malu jika mengingat kisah hati yang saat itu harus ku tepis tatkala jumpa laki-laki yang membuat diriku terkagum. Saat itu Aku menemani sahabatku Mayda Musfita untuk bertemu ketua konsulat dari jakarta. Sesampainya kami di gerbang pesantren laki-laki itu telah menunggu di sana, setelah kami mendekat lalu Dia menyerahkan kantong hitam besar kepada Mayda. 
“kak Faruq, perkenalkan ini teman ana dari tuban namanya annida syifa a’yun”, kata Mayda memperkenalkanku. 
“ Oh ya” dengan gayanya yang cuek kak Faruq menjawab, tanpa memperdulikanku, kak Faruq pun melanjutkan pembicaraannya dengan Mayda “ tar kalau udah siap bukunya mohon simpan dengan Mayda dulu” 
 “ insyallah, kak”, jawab Mayda dengan singkat. 
“ syukran, Assalamu’alaikum” kak Faruq berlalu meninggalkan kami. 
“walaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”, dengan kompak kami menjawab. 
Pertemuan singkat kala itu telah meninggalkan kenangan tersendiri dalam hidupku. Entah kenapa bayangan kak Faruq tak berhenti menari-nari dalam pikiranku, telah ku coba menepisnya tapi tak selamanya itu berhasil. Sempat Aku berfikir apakah ini yang dinamakan sayang tapi walaupun itu benar Aku pun hanya mampu menyimpannya dalam hati karena mustahil jika harus menyatakannya, Aku tak mengenalnya, Aku pun juga tak ingin melanggar prinsip hidupku dan Nasihat orang tua bagaimana harus menjaga diri dari laki-laki yang belum muhrimnya. Biarlah waktu yang menjawab, kan ku titipkan cinta ini kepada Allah. 
***
 Lusa rombongan dari jakarta akan datang dalam rangka acara lamaran, rasanya Aku ingin waktu berputar lamban tapi sebaliknya yang ku rasakan. Aku terus berdo’a berharap Abah berubah pikiran untuk membatalkan pernikahan dan mengizinkanku pergi ke Kairo. “Assalamu’alaikum annida” terdengar suara salam menyadarkan dari lamunan panjang ku. “walaikumsalam, iya sebentar” dengan terburu- buru ku buka pintu kamar. “ummi” ku jawab dengan lemah. Seorang wanita telah berdiri di depanku, memandangi ku dengan pancaran kasih sayangnya, terasa memberikan kesejukan bagi siapa saja yang memandangnya, kata-katanya selalu memberikan kekuatan seakan Aku selalu mendapatkan energi baru kala mendengarkan nasihat-nasihatnya, sosoknya telah mengajari banyak hal dalam hidupku selalu menjadi tempat curahan hati kala suasana sedih maupun senang, hari ini pun kan ku coba lumpahkan isi hati ini pada wanita yang telah rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku, karena seorang ibu akan lebih bisa merasakan apa yang terjadi pada anak-anaknya. Ku sandarkan badanku lalu berlahan Ummi letakkan pada pangkuannya. “ada apa dengan mu ndok? Akhir-akhir ini ummi lihat kok sering melamun, ada yang mengganggu pikiranmu?”, dengan lembut Ummi berusaha memahami apa yang sedang kurasakan. “Ummi bahagia dengan pernikahan ini?” “kenapa tanya gitu dengan Ummi” “bolehkah Annida ceritakan kepada Ummi apa yang Annida rasakan sekarang” dengan penuh harap. “hemm, silahkan anak Ummi sayang” “Ummi, sebenarnya Ada seseorang yang selalu mengganggu pikiran Annida selama ini” “siapa dia ndok” tanya Ummi penuh penasaran. “Annida bertemu waktu masih di pesantren dulu mi, Annida gak banyak tau tentang dia, yang ana tau Dia ketua konsulat jakarta, namanya Faruq mi”. “mengapa Annida tak pernah cerita sebelumnya dengan Ummi sayang, sekarang sudah telat, Nida sebentar lagi harus menikah”, kata Ummi menyayangkan sikap ku selama ini. “ana pikir gak perlu Ummi karena Annida Ingin kuliah dulu ke Kairo, perjalanan Annida masih panjang dan masih banyak kemungkinan yang akan terjadi pada hidap ana”. Ku coba menjelaskan dengan Ummi dengan melakukan pembelaan atas sikap ku. “tapi akibatnya seperti ini ndok?, Annida harus menanggung hati dengan keputusan Abah, Rombongan dari jakarta Lusa akan datang ke rumah, jika Annida masih belum siap apa yang Abah dan Ummi sampaikan dengan keluarha pak Afif nanti, kami ingin kan yang terbaik untuk nida, selama ini Annida anak yang sholehah. Ummi dan Abah sayang sekali. Mencobalah Annida menerima dengan Ikhlas, jika memang Annida ingin ke Kairo itu bisa di fikirkan kembali setelah menikah, Abahmu terkadang memang keinginannya susah untuk kita terima tapi selama ini apa yang Abahmu mau hampir semua berbuah kebaikan, perbanyaklah berdo’a pada Allah minta di bukakan hati-hati kita, mintalah sesuatu yang terbaik menurut Allah, Nida harus kuat dan sabar ya”. Ummi berusaha menghibur dan menguatkanku. “iya Ummi, maaf kan kalau sikap ana selama ini membuat ummi sedih. Sebenarnya Annida sudah ikhlas dengan pernikahan ini, karena menikah merupakan ibadah mengikuti sunah rasul, Cuma Annida dulu pernah berfikir akan menikah setelah S2 ummi”. Dengan penuh kehatian ku jelaskan karena takut menyakiti hati wanita yang paling ku cinta itu . Nasihat Ummi sore itu seakan telah mampu menggantikan energi-energi yang sempat hilang dari diriku. Semakin ku sadari ternyata membuatnya bahagia lebih utama dari semua kekayaan dunia dan seisinya. kini ku berusaha menyusun kekuatan lahir dan batin, mengumpulkan sisa-sisa asa menjadi harapan yang bermuarakan harapan ilahiyah. Berharap bisa menjadi anak sekaligus istri yang sholehah. 
*** 
Malam ini seakan aku tak ingin meninggalkan sujudku pada Allah, Ingin ku habiskan malam dalam tahujudku kali ini bersama do’a-do’a kepasrahan kepadaNya, Aku serahkan semua yang akan terjadi esok padaNya, jika memang Allah ridhoi pernikahan kami maka jadikan pernikahan ini untuk mengantarkan kami ke surganya, dan jadikan esok hari pertemuan pertama kali kami bagai Adam yang merindu hawa. Pagi ini ke adaan rumah terlihat rapi keluarga akan menyambut kedatangan rombongan dari jakarta, seakan Aku sedang bermimpi hari ini aku akan bertemu dengan seseorang yang selalu ku sebut dalam do’aku kutitipkan pada Allah walau Aku tak tahu siapa engkau kala itu, dan mungkin hari ini adalah jawabannya. Abah bilang mereka telah sampai di Ponorogo kemarin siang dan hari ini mereka akan sampai ke Tuban sekitar jam 1o setelah melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam. Sekitar jam 9 pakde Hafiz dan istrinya datang ke rumah, Aku pun tak henti-hentinya berdo’a pada Allah berharap hari ini akan menjadi sejarah terindah dalam hidupku. 
*** 
10.18 WIB terdengar suara iringan kendaraan memasuki halaman rumah. Perasaanku semakin tak menentu, cemas, takut, tapi tak tahu kenapa belum ku rasakan sepenuhnya bahagia itu muncul pada hatiku karena Kairo masih selalu membayangiku. Ku ambil Al-Quran lalu Aku baca berlahan berusaha temukan ketenangan di dalamnya, tiba-tiba butiran bening membasahi pipiku, air mata yang selama ini ku tahan akhirnya kini tak dapat ku sembunyikan lagi, ya robby kuatkan aku di hari ini ya rab, bisik do’aku dalam hati. “annida??” Terdengar suara Ummi memanggilku, sepertinya tamu telah siap di ruang depan dan aku pun harus keluar dari kamar. Hari ini ku kenakan gamis coklat hadiah dari Abah kala Aku lulus dari pesantren dulu,Ku langkahkan kaki menuju ruang tamu dengan didampingi Ummi. “jika memang Annida tak inginkan nak Aziz sebagai suami mu, nida boleh menolaknya tapi nida harus punya alasan yang tepat” kata Ummi membuat ku terkejut. Sepertinya Ummi melihat kesedihan masih nampak di wajahku. Hingga beliau seakan merasakan apa yang terjadi denganku. “tidak Ummi, insyallah Nida ikhlas mungkin nida hanya butuh waktu untuk itu” ku jawab dengan lembut penuh akan keyakinan. “Jangan engkau korbankan kebahagianmu hanya untuk kami ndok” “Annida akan bahagia kalau melihat Ummi dan Abah bahagia mi.. Ummi do’akan Nida ya..” “Pasti sayang” Kami pun memasuki ruangan depan, walau Aku tak menghitungnya tapi sepertinya aku merasakan tamu dari jakarta lebih dari satu keluarga karena ruangan tamu terlihat hampir penuh yang biasanya mampu menampung sekitar 50 orang. Aku terus menunduk aku pun tak dapat melihat wajah para tamu. Tiba-tiba hati berbisik bergumam dalam hati sebuah tanya siapa seseorang yang hendak menjadikan aku sebagai bidadari dalam hidupnya, berlahan mulai ku mengangkat kepalaku kugerakkan berlahan biji mata ke kanan dan kiri takut seseorang memperhatikan sikapku, seakan mengintai sesuatu mata ini mencuri-curi pandangan Upz.. tiba-tiba pandanganku menangkap sesosok yang duduk di ujung sana, tepat di depanku tapi Aku tak dapat memperhatikan dengan jelas karena kami saling berjauhan, hanya sekilas ku lihat wajahnya “siapa Dia?seakan aku tak asing akan wajahnya?apakah Dia yang engkau maksud ya rabby?” pertanyaan itu terus beruntun di kepalaku. Tiba-tiba suara hening dan hati kini semakin berdegup kencang ku pegang tangan Ummi agar dapat mengurangi ke gugupanku. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....” Ku dengarkan seksama pihak keluarga jakarta mengutarakan maksud akan kedatangan mereka. “..mengkhitbah Annida syifa a’yun untuk Azzizurahman Al-Faruq..” Tiba-tiba aku melongo, seakan ada sesuatu keajaiban terjadi pada diriku, bahkan seakan jantungku berhenti berdegup, darah pun tak mengalir lagi ketika terdengar oleh ku sebuah nama Azzizurahman Al-Faruq, benarkah dia kak Faruq orang yang selama ini mengisi hatiku. Hati pun berharap seperti itu adanya, tapi aku tak ingin terhanyut dalam harapan yang belum akan kepastiannya. “bagaimana neng Annida, siapkan menjadi Istri dari ananda Azzizurahman Al-Faruq?” Aku terdiam sejenak seakan bibir ini kelu tak mampu untuk di gerakkan, ku berdo’a dalam hati ya robby ku serahkan hidup dan matiku padamu, “demi cintaku pada Robby dan RasulNya dan demi baktiku pada orang tua dengan ucapan bismillahirahmanirrahim, ana siap menjadi istri dari Azzizurahman Al-Faruq” “Alhamdulillah..” tiba-tiba ruangan bergemuruh dengan ucapan tahmid semua orang yang menyaksikannya membuat semua tubuhku merinding akan kebesarannya. Karena kedua belah pihak telah merestui mereka ingin besok pagi dilanjutkan dengan acara Ijab kabul di pondok pesantren Langitan Tuban dengan di saksikan para kyai dan santri. Begitu terkejut kala mendengarnya, tapi Aku pasrahkan pada Allah karena kapan pun acara sakral itu di langsungkan pada akhirnya pun Aku akan menjadi Istri dari Azzirahman Al-Faruq. 
***
 Setelah para undangan meninggalkan kediaman kami, Aku pun segera menuju kamar dan ku simpuhkan badan dalam sujud syukurku, perasaan haru seperti Aku masih dalam dunia mimpi, bahwa tinggal menghitung jam Annida Syifa A’yun akan menjadi seorang istri. “Annida sayang...” Ummi menghampiri ku dan memeluk erat, seakan Aku merasakan kehangatan kasih sayangnya “ini ada surat untukmu ndok, tadi katanya dari Nak Aziz yang di titipkan lewat Abahmu” Ku buka berlahan surat bergulung berpitakan biru itu,, 
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh 
Untuk sepasang sayap, yang masih ku titipkan padanya Puji syukur kepada sang pencipta langit, bumi serta isinya, sampai saat ini masih menjaga hati-hati kita dalam cinta dan kasih kepadaNya, serta sholawat beriring rindu semoga selalu membasahi bibir kita dalam setiap langkah mengharap keridhoanNya. Adinda Annida syifa a’yun.. Pertama dari surat ini ku tulis sebagai penghantar maafku, karena Ana sudah membuat Aninda bersedih hati karena harus mengorbankan semua harapan-harapan terindah dalam hidup hanya untuk menemui seseorang yang tak pernah Aninda paham akan siapa Dia, bahkan pertemuan itu tidak hanya sedetik atau semenit tetapi pertemuan yang terikat, bahkan ikatan itu insyallah kan dibawa sampai ke syurgaNya kelak. Lewat surat ini juga Ana ingin ucapkan terimakasih atas semua Amanah yang Adinda titipkan pada Ana. Kepercayaan, cinta, kebahagiaan yang akan kita bangun dalam alunan mahligai hidup dalam keridhoanNya. Ana berharap ikhlaskan Ana untuk membangun taman surga di akhirat bersama Adinda. Adinda yang ku cita karena Allah.. Lewat surat ini izinkan Ana memperkenalkan diri “Azzizurahman Al-Faruq” itulah nama Ana, Aziz begitulah keluarga memanggil dan Faruq panggilan di pesantren juga sahabat di timur tengah dan begitu pulalah Adinda mengenal Ana. Ana ketua konsulat jakarta kakak sepupu dari mayda musfida tapi Annida baru paham akan itu semua sekarang. Maafkan Ana yang harus sembunyikan dan jujurkan semua hal pada detik ini karena Ana ingin cinta itu bertahta cinta pada Allah Taala. Adinda tak Usah bersedih hati Ana telah siapkan kado terindah untuk Adinda pasca pernikahan kita nanti, hadiah itu sebagai rasa syukur kepada Allah karena Allah telah kirimkan bidadari yang akan temani hari-hari Ana nanti, tapi maaf Ana tak bisa sampaikan perihal hadiah itu sekarang. Akhir dari rangkaian kata ini ku kabarkan kejujuran dalam hati bahwa di setiap rangkaian do’a Ana selalu mohonkan pada Allah bahwa kelak Allah satukan kita dalam sucinya cinta hanya karenanya semata, Allah jadikan Annida bidadari dunia dan akhiratku, karena sesungguhnya pertemuan di pesantren kala itu hingga detik ini sudah menjadi perencanaan dari Allah. Ku tutup rangkaian kata ini dengan syukurku pada robbuna.. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. 
By; Azizaaturahman Al-Faruq 
Badanku lemas, gemetar dan bergetar tak terasa air mata mengalir membasahi muka, segera ku lakukan sujud syukurku kembali. Kini perasaan cemas ataupun sedih seakan telah terkikis dan bergantikan bahagia, surat itu seakan memberikan kekuatan pada jiwaku. “kenapa ndok., kok menangis?” Ummi memegang erat tubuhku dan memeluknya. “Dia kak Faruq Ummi, Dia dan Annida yang bertemu waktu di pesantren dulu mi..” “subhanallah, Aziz adalah Faruq’ “iya Ummi” Tba-tiba HP ku berdering, segera ku baca pesan singkat yang ternyata berasal dari sahabatku Mayda Musfida “ku titipkan kak Faruq untuk kau jaga, Engkau yang terbaik untuk dirinya”. tak henti-hentinya Aku bersyukur, ternyata kak Faruq juga merasakan hal yang sama, perjumpaan kami dulu telah meninggalkan butiran rasa yang mungkin orang menyebutnya itulah cinta, sesungguhnya Rasulullah telah berwasiat kepada kaum Wanita. bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah. maka, berniatlah untuk menjadi wanita sholehah dengan segenap kemampuan. agar mencapai kehidupan dengan penuh kebaikan. dan mengakhirinya dengan penuh kebaikan. Mungkin ini sudah janji Allah barang siapa yang memberikan yang terbaik untuk Allah maka Allah pun akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik pula. 
*** 
Di pagi harinya keluarga besar segera meluncur menuju pondok pesantren guna menghadiri Acara yang akan menjadi memori terindah dalam hidupku, di mana Aku akan di pertemukan dalam ikatan suci dengan seseorang yang Ku impikan selama ini. Rasanya tak sabar lagi menunggu detik-detik indah itu. Bertepatan pada 28 sya’ban 2 hari sebelum Ramadhan di masjid pondok pesantren langitan dengan di hadadiri keluarga dari kedua belah pihak serta para kyai dan santri dengan penuh syahdu satu nafas Azzizurahman Al-Faruq mengucapkan akad nikah. Suasana tegang kini berubah menjadi luapan bahagia yang terpancar melalui senyuman para keluarga dan undangan, tak mampu ku gambarkan bagaimana suasana hati kala itu. Dan ku lihat butiran bening jatuh dari penglihatan Ummi kami pun saling berpelukan Erat. 
*** 
Pasca pernikahan kami, kak Faruq yang menepati janji mengenai kado terindah itu, setelah lebaran kak Faruq membawaku menuju Kairo untuk menyusul teman-teman dan melanjutkan impianku selama ini, karena kak Faruq juga akan melanjutkan S3 di Al-Azhar, Satu kenikmatan lagi yang Allah tunjukkan padaku, padahal kalau boleh Aku katakan akan isi hati ini, pesona Kairo telah terlupakan karena Allah telah menggantikan sesosok pangeran yang selama ini ku impikan. Semua ini lebih dari sekedar kado terindah dari Allah. Engkau telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan. Segala ketentuannya tak dapat dirubah. Namun, engkau adalah manusia yang menjalankan dengan berbagai pilihan. InsyaAllah, hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, sabar atas segala kehendakNya dan mencoba memikirkan baik buruknya cinta “terlarang”, Allah akan selalu menjaga kita. Menjaga cinta kita untuk yang berhak. Dialah Allah, sutradara terbaik dimuka bumi. Segala skenarionya adalah yang terindah meskipun harus mengais makna dalam kesedihan. Setiap manusia ditakdirkan memiliki cinta. Hanya Allah sebaik-baik pemberi cinta. Hanya Allah sebaik-baik landasan untuk mencintai. Alhamdulillah hirabbil alamin....... By : Annisa Pelita Hati Bumi Allah, 29 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar