Subhanallah hari ini memang terasa lebih terik dari pada hari biasanya,
bahkan seakan panas hari ini telah mematahkan semangat untuk
beraktivitas di luar rumah. Keadaan ini berbeda ketika masih di
pesantren dulu, walaupun hari terik, agenda padat, istirahat tak sempat
tapi kami tetap jalani semua itu dengan semangat.
Aku habiskan hari
sabtu ini hanya berdiam diri dalam rumah, 2 juz Qur’an telah ku baca
bahkan aku bisa menambah hafalanku sampai 3 lembar, subhanallah aku
benar-benar tak ingin menghabiskan waktu ku hanya untuk sesuatu tak
bermanfaat.
Seminggu setelah ke pulanganku dari pesantren, aku lebih banyak berdiam
diri di rumah, aku masih ingin menenangkan kegundahan hati atau lebih
tepatnya mengobati kesedihan karena tak adanya restu dari Abah untuk
kuliah S2 ku di Al-Azhar Kairo, sebagian dari sahabatku bulan depan
setelah lebaran sudah harus hijrah ke Kairo untuk melanjutkan impian
besar mereka. Berbeda denganku yang harus mengubur dalam-dalam harapan
besar itu. Dada masih terasa sesak ketika teringat abah kala itu berkata
“Annida sudah menjadi wanita dewasa dan saat ini ayah ingin menunaikan
kewajiban yang terakhir yaitu untuk memilihkan calon pendamping hidup
annida”. Seakan ada badai yang menghujam dalam dada, ada perasaan sedih,
bingung bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana harus menggambarkan,
rasanya aku ingin teriak sekuat-kuatnya meluapkan kegundahan yang ada.
Telah kucoba menjelaskan semuanya ke Abah tentang keinginanku belajar di
Kairo, tapi Abah belum bisa menanggapinya dengan baik. Abah tidak bisa
lagi menolok lamaran-lamaran yang ada, terakhir lamaran datang dari
Jakarta Anak dari teman Pakde Hafiz sewaktu kuliah di Yaman.
***
Sebagai anak aku ingin patuh akan titah orang tua tapi di sisi lain Aku
punya harapan besar bahkan harapan ini telah tertanam dalam hati dan
pikiran sejak kecil. Aku ingin melanjutkan belajar tapi orang tua
menginginkan untuk segera menikah. Pada hakikatnya Aku tak menyalahkan
sikap Abah, karena nikah merupakan bagian dari ibadah. Dari kecil Aku
selalu berusaha patuh akan nasihat orang tua salah satunya sesuatu yang
berhubungan dengan hati. Teringat akan nasihat-nasihat Abah kala Aku
masih SD, Abah selalu berpesan “tak ada kata pacar selama belajar”. Dan
kata singkat itu pun masih selalu di sampaikan hingga Aku sarjana,
Begitulah salah satu cara Abah menunjukkan sayang pada anak-anaknya. Aku
tersenyum malu jika mengingat kisah hati yang saat itu harus ku tepis
tatkala jumpa laki-laki yang membuat diriku terkagum. Saat itu Aku
menemani sahabatku Mayda Musfita untuk bertemu ketua konsulat dari
jakarta. Sesampainya kami di gerbang pesantren laki-laki itu telah
menunggu di sana, setelah kami mendekat lalu Dia menyerahkan kantong
hitam besar kepada Mayda.
“kak Faruq, perkenalkan ini teman ana dari tuban namanya annida syifa
a’yun”, kata Mayda memperkenalkanku.
“ Oh ya” dengan gayanya yang cuek kak Faruq menjawab, tanpa
memperdulikanku, kak Faruq pun melanjutkan pembicaraannya dengan Mayda “
tar kalau udah siap bukunya mohon simpan dengan Mayda dulu”
“ insyallah, kak”, jawab Mayda dengan singkat.
“ syukran, Assalamu’alaikum” kak Faruq berlalu meninggalkan kami.
“walaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”, dengan kompak kami menjawab.
Pertemuan singkat kala itu telah meninggalkan kenangan tersendiri dalam
hidupku. Entah kenapa bayangan kak Faruq tak berhenti menari-nari dalam
pikiranku, telah ku coba menepisnya tapi tak selamanya itu berhasil.
Sempat Aku berfikir apakah ini yang dinamakan sayang tapi walaupun itu
benar Aku pun hanya mampu menyimpannya dalam hati karena mustahil jika
harus menyatakannya, Aku tak mengenalnya, Aku pun juga tak ingin
melanggar prinsip hidupku dan Nasihat orang tua bagaimana harus menjaga
diri dari laki-laki yang belum muhrimnya. Biarlah waktu yang menjawab,
kan ku titipkan cinta ini kepada Allah.
***
Lusa rombongan dari jakarta akan datang dalam rangka acara lamaran,
rasanya Aku ingin waktu berputar lamban tapi sebaliknya yang ku rasakan.
Aku terus berdo’a berharap Abah berubah pikiran untuk membatalkan
pernikahan dan mengizinkanku pergi ke Kairo.
“Assalamu’alaikum annida” terdengar suara salam menyadarkan dari
lamunan panjang ku.
“walaikumsalam, iya sebentar” dengan terburu- buru ku buka pintu kamar.
“ummi” ku jawab dengan lemah.
Seorang wanita telah berdiri di depanku, memandangi ku dengan pancaran
kasih sayangnya, terasa memberikan kesejukan bagi siapa saja yang
memandangnya, kata-katanya selalu memberikan kekuatan seakan Aku selalu
mendapatkan energi baru kala mendengarkan nasihat-nasihatnya, sosoknya
telah mengajari banyak hal dalam hidupku selalu menjadi tempat curahan
hati kala suasana sedih maupun senang, hari ini pun kan ku coba
lumpahkan isi hati ini pada wanita yang telah rela mempertaruhkan
nyawanya untuk melahirkanku, karena seorang ibu akan lebih bisa
merasakan apa yang terjadi pada anak-anaknya.
Ku sandarkan badanku lalu berlahan Ummi letakkan pada pangkuannya.
“ada apa dengan mu ndok? Akhir-akhir ini ummi lihat kok sering melamun,
ada yang mengganggu pikiranmu?”, dengan lembut Ummi berusaha memahami
apa yang sedang kurasakan.
“Ummi bahagia dengan pernikahan ini?”
“kenapa tanya gitu dengan Ummi”
“bolehkah Annida ceritakan kepada Ummi apa yang Annida rasakan sekarang”
dengan penuh harap.
“hemm, silahkan anak Ummi sayang”
“Ummi, sebenarnya Ada seseorang yang selalu mengganggu pikiran Annida
selama ini”
“siapa dia ndok” tanya Ummi penuh penasaran.
“Annida bertemu waktu masih di pesantren dulu mi, Annida gak banyak tau
tentang dia, yang ana tau Dia ketua konsulat jakarta, namanya Faruq mi”.
“mengapa Annida tak pernah cerita sebelumnya dengan Ummi sayang,
sekarang sudah telat, Nida sebentar lagi harus menikah”, kata Ummi
menyayangkan sikap ku selama ini.
“ana pikir gak perlu Ummi karena Annida Ingin kuliah dulu ke Kairo,
perjalanan Annida masih panjang dan masih banyak kemungkinan yang akan
terjadi pada hidap ana”. Ku coba menjelaskan dengan Ummi dengan
melakukan pembelaan atas sikap ku.
“tapi akibatnya seperti ini ndok?, Annida harus menanggung hati dengan
keputusan Abah, Rombongan dari jakarta Lusa akan datang ke rumah, jika
Annida masih belum siap apa yang Abah dan Ummi sampaikan dengan keluarha
pak Afif nanti, kami ingin kan yang terbaik untuk nida, selama ini
Annida anak yang sholehah. Ummi dan Abah sayang sekali. Mencobalah
Annida menerima dengan Ikhlas, jika memang Annida ingin ke Kairo itu
bisa di fikirkan kembali setelah menikah, Abahmu terkadang memang
keinginannya susah untuk kita terima tapi selama ini apa yang Abahmu mau
hampir semua berbuah kebaikan, perbanyaklah berdo’a pada Allah minta di
bukakan hati-hati kita, mintalah sesuatu yang terbaik menurut Allah,
Nida harus kuat dan sabar ya”. Ummi berusaha menghibur dan menguatkanku.
“iya Ummi, maaf kan kalau sikap ana selama ini membuat ummi sedih.
Sebenarnya Annida sudah ikhlas dengan pernikahan ini, karena menikah
merupakan ibadah mengikuti sunah rasul, Cuma Annida dulu pernah berfikir
akan menikah setelah S2 ummi”. Dengan penuh kehatian ku jelaskan karena
takut menyakiti hati wanita yang paling ku cinta itu .
Nasihat Ummi sore itu seakan telah mampu menggantikan energi-energi yang
sempat hilang dari diriku. Semakin ku sadari ternyata membuatnya
bahagia lebih utama dari semua kekayaan dunia dan seisinya. kini ku
berusaha menyusun kekuatan lahir dan batin, mengumpulkan sisa-sisa asa
menjadi harapan yang bermuarakan harapan ilahiyah. Berharap bisa menjadi
anak sekaligus istri yang sholehah.
***
Malam ini seakan aku tak ingin meninggalkan sujudku pada Allah, Ingin ku
habiskan malam dalam tahujudku kali ini bersama do’a-do’a kepasrahan
kepadaNya, Aku serahkan semua yang akan terjadi esok padaNya, jika
memang Allah ridhoi pernikahan kami maka jadikan pernikahan ini untuk
mengantarkan kami ke surganya, dan jadikan esok hari pertemuan pertama
kali kami bagai Adam yang merindu hawa.
Pagi ini ke adaan rumah terlihat rapi keluarga akan menyambut kedatangan
rombongan dari jakarta, seakan Aku sedang bermimpi hari ini aku akan
bertemu dengan seseorang yang selalu ku sebut dalam do’aku kutitipkan
pada Allah walau Aku tak tahu siapa engkau kala itu, dan mungkin hari
ini adalah jawabannya.
Abah bilang mereka telah sampai di Ponorogo kemarin siang dan hari ini
mereka akan sampai ke Tuban sekitar jam 1o setelah melakukan perjalanan
kurang lebih 3 jam. Sekitar jam 9 pakde Hafiz dan istrinya datang ke
rumah, Aku pun tak henti-hentinya berdo’a pada Allah berharap hari ini
akan menjadi sejarah terindah dalam hidupku.
***
10.18 WIB terdengar suara iringan kendaraan memasuki halaman rumah.
Perasaanku semakin tak menentu, cemas, takut, tapi tak tahu kenapa belum
ku rasakan sepenuhnya bahagia itu muncul pada hatiku karena Kairo masih
selalu membayangiku.
Ku ambil Al-Quran lalu Aku baca berlahan berusaha temukan ketenangan di
dalamnya, tiba-tiba butiran bening membasahi pipiku, air mata yang
selama ini ku tahan akhirnya kini tak dapat ku sembunyikan lagi, ya
robby kuatkan aku di hari ini ya rab, bisik do’aku dalam hati.
“annida??”
Terdengar suara Ummi memanggilku, sepertinya tamu telah siap di ruang
depan dan aku pun harus keluar dari kamar.
Hari ini ku kenakan gamis coklat hadiah dari Abah kala Aku lulus dari
pesantren dulu,Ku langkahkan kaki menuju ruang tamu dengan didampingi
Ummi.
“jika memang Annida tak inginkan nak Aziz sebagai suami mu, nida boleh
menolaknya tapi nida harus punya alasan yang tepat” kata Ummi membuat ku
terkejut. Sepertinya Ummi melihat kesedihan masih nampak di wajahku.
Hingga beliau seakan merasakan apa yang terjadi denganku.
“tidak Ummi, insyallah Nida ikhlas mungkin nida hanya butuh waktu untuk
itu” ku jawab dengan lembut penuh akan keyakinan.
“Jangan engkau korbankan kebahagianmu hanya untuk kami ndok”
“Annida akan bahagia kalau melihat Ummi dan Abah bahagia mi.. Ummi
do’akan Nida ya..”
“Pasti sayang”
Kami pun memasuki ruangan depan, walau Aku tak menghitungnya tapi
sepertinya aku merasakan tamu dari jakarta lebih dari satu keluarga
karena ruangan tamu terlihat hampir penuh yang biasanya mampu menampung
sekitar 50 orang. Aku terus menunduk aku pun tak dapat melihat wajah
para tamu. Tiba-tiba hati berbisik bergumam dalam hati sebuah tanya
siapa seseorang yang hendak menjadikan aku sebagai bidadari dalam
hidupnya, berlahan mulai ku mengangkat kepalaku kugerakkan berlahan biji
mata ke kanan dan kiri takut seseorang memperhatikan sikapku, seakan
mengintai sesuatu mata ini mencuri-curi pandangan Upz.. tiba-tiba
pandanganku menangkap sesosok yang duduk di ujung sana, tepat di depanku
tapi Aku tak dapat memperhatikan dengan jelas karena kami saling
berjauhan, hanya sekilas ku lihat wajahnya “siapa Dia?seakan aku tak
asing akan wajahnya?apakah Dia yang engkau maksud ya rabby?” pertanyaan
itu terus beruntun di kepalaku.
Tiba-tiba suara hening dan hati kini semakin berdegup kencang ku pegang
tangan Ummi agar dapat mengurangi ke gugupanku.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....”
Ku dengarkan seksama pihak keluarga jakarta mengutarakan maksud akan
kedatangan mereka.
“..mengkhitbah Annida syifa a’yun untuk Azzizurahman Al-Faruq..”
Tiba-tiba aku melongo, seakan ada sesuatu keajaiban terjadi pada diriku,
bahkan seakan jantungku berhenti berdegup, darah pun tak mengalir lagi
ketika terdengar oleh ku sebuah nama Azzizurahman Al-Faruq, benarkah dia
kak Faruq orang yang selama ini mengisi hatiku. Hati pun berharap
seperti itu adanya, tapi aku tak ingin terhanyut dalam harapan yang
belum akan kepastiannya.
“bagaimana neng Annida, siapkan menjadi Istri dari ananda Azzizurahman
Al-Faruq?”
Aku terdiam sejenak seakan bibir ini kelu tak mampu untuk di gerakkan,
ku berdo’a dalam hati ya robby ku serahkan hidup dan matiku padamu,
“demi cintaku pada Robby dan RasulNya dan demi baktiku pada orang tua
dengan ucapan bismillahirahmanirrahim, ana siap menjadi istri dari
Azzizurahman Al-Faruq”
“Alhamdulillah..” tiba-tiba ruangan bergemuruh dengan ucapan tahmid
semua orang yang menyaksikannya membuat semua tubuhku merinding akan
kebesarannya.
Karena kedua belah pihak telah merestui mereka ingin besok pagi
dilanjutkan dengan acara Ijab kabul di pondok pesantren Langitan Tuban
dengan di saksikan para kyai dan santri.
Begitu terkejut kala mendengarnya, tapi Aku pasrahkan pada Allah karena
kapan pun acara sakral itu di langsungkan pada akhirnya pun Aku akan
menjadi Istri dari Azzirahman Al-Faruq.
***
Setelah para undangan meninggalkan kediaman kami, Aku pun segera menuju
kamar dan ku simpuhkan badan dalam sujud syukurku, perasaan haru seperti
Aku masih dalam dunia mimpi, bahwa tinggal menghitung jam Annida Syifa
A’yun akan menjadi seorang istri.
“Annida sayang...” Ummi menghampiri ku dan memeluk erat, seakan Aku
merasakan kehangatan kasih sayangnya “ini ada surat untukmu ndok, tadi
katanya dari Nak Aziz yang di titipkan lewat Abahmu”
Ku buka berlahan surat bergulung berpitakan biru itu,,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Untuk sepasang sayap, yang masih ku titipkan padanya
Puji syukur kepada sang pencipta langit, bumi serta isinya, sampai saat
ini masih menjaga hati-hati kita dalam cinta dan kasih kepadaNya, serta
sholawat beriring rindu semoga selalu membasahi bibir kita dalam setiap
langkah mengharap keridhoanNya.
Adinda Annida syifa a’yun..
Pertama dari surat ini ku tulis sebagai penghantar maafku, karena Ana
sudah membuat Aninda bersedih hati karena harus mengorbankan semua
harapan-harapan terindah dalam hidup hanya untuk menemui seseorang yang
tak pernah Aninda paham akan siapa Dia, bahkan pertemuan itu tidak hanya
sedetik atau semenit tetapi pertemuan yang terikat, bahkan ikatan itu
insyallah kan dibawa sampai ke syurgaNya kelak.
Lewat surat ini juga Ana ingin ucapkan terimakasih atas semua Amanah
yang Adinda titipkan pada Ana. Kepercayaan, cinta, kebahagiaan yang akan
kita bangun dalam alunan mahligai hidup dalam keridhoanNya. Ana
berharap ikhlaskan Ana untuk membangun taman surga di akhirat bersama
Adinda.
Adinda yang ku cita karena Allah..
Lewat surat ini izinkan Ana memperkenalkan diri “Azzizurahman Al-Faruq”
itulah nama Ana, Aziz begitulah keluarga memanggil dan Faruq panggilan
di pesantren juga sahabat di timur tengah dan begitu pulalah Adinda
mengenal Ana.
Ana ketua konsulat jakarta kakak sepupu dari mayda musfida tapi Annida
baru paham akan itu semua sekarang. Maafkan Ana yang harus sembunyikan
dan jujurkan semua hal pada detik ini karena Ana ingin cinta itu
bertahta cinta pada Allah Taala.
Adinda tak Usah bersedih hati Ana telah siapkan kado terindah untuk
Adinda pasca pernikahan kita nanti, hadiah itu sebagai rasa syukur
kepada Allah karena Allah telah kirimkan bidadari yang akan temani
hari-hari Ana nanti, tapi maaf Ana tak bisa sampaikan perihal hadiah itu
sekarang.
Akhir dari rangkaian kata ini ku kabarkan kejujuran dalam hati bahwa di
setiap rangkaian do’a Ana selalu mohonkan pada Allah bahwa kelak Allah
satukan kita dalam sucinya cinta hanya karenanya semata, Allah jadikan
Annida bidadari dunia dan akhiratku, karena sesungguhnya pertemuan di
pesantren kala itu hingga detik ini sudah menjadi perencanaan dari
Allah.
Ku tutup rangkaian kata ini dengan syukurku pada robbuna..
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
By; Azizaaturahman Al-Faruq
Badanku lemas, gemetar dan bergetar tak terasa air mata mengalir
membasahi muka, segera ku lakukan sujud syukurku kembali. Kini perasaan
cemas ataupun sedih seakan telah terkikis dan bergantikan bahagia, surat
itu seakan memberikan kekuatan pada jiwaku.
“kenapa ndok., kok menangis?” Ummi memegang erat tubuhku dan memeluknya.
“Dia kak Faruq Ummi, Dia dan Annida yang bertemu waktu di pesantren dulu
mi..”
“subhanallah, Aziz adalah Faruq’
“iya Ummi”
Tba-tiba HP ku berdering, segera ku baca pesan singkat yang ternyata
berasal dari sahabatku Mayda Musfida “ku titipkan kak Faruq untuk kau
jaga, Engkau yang terbaik untuk dirinya”. tak henti-hentinya Aku
bersyukur, ternyata kak Faruq juga merasakan hal yang sama, perjumpaan
kami dulu telah meninggalkan butiran rasa yang mungkin orang menyebutnya
itulah cinta, sesungguhnya Rasulullah telah berwasiat kepada kaum
Wanita. bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah.
maka, berniatlah untuk menjadi wanita sholehah dengan segenap kemampuan.
agar mencapai kehidupan dengan penuh kebaikan. dan mengakhirinya dengan
penuh kebaikan.
Mungkin ini sudah janji Allah barang siapa yang memberikan yang terbaik
untuk Allah maka Allah pun akan menggantikannya dengan sesuatu yang
lebih baik pula.
***
Di pagi harinya keluarga besar segera meluncur menuju pondok pesantren
guna menghadiri Acara yang akan menjadi memori terindah dalam hidupku,
di mana Aku akan di pertemukan dalam ikatan suci dengan seseorang yang
Ku impikan selama ini. Rasanya tak sabar lagi menunggu detik-detik indah
itu.
Bertepatan pada 28 sya’ban 2 hari sebelum Ramadhan di masjid pondok
pesantren langitan dengan di hadadiri keluarga dari kedua belah pihak
serta para kyai dan santri dengan penuh syahdu satu nafas Azzizurahman
Al-Faruq mengucapkan akad nikah.
Suasana tegang kini berubah menjadi luapan bahagia yang terpancar
melalui senyuman para keluarga dan undangan, tak mampu ku gambarkan
bagaimana suasana hati kala itu. Dan ku lihat butiran bening jatuh dari
penglihatan Ummi kami pun saling berpelukan Erat.
***
Pasca pernikahan kami, kak Faruq yang menepati janji mengenai kado
terindah itu, setelah lebaran kak Faruq membawaku menuju Kairo untuk
menyusul teman-teman dan melanjutkan impianku selama ini, karena kak
Faruq juga akan melanjutkan S3 di Al-Azhar, Satu kenikmatan lagi yang
Allah tunjukkan padaku, padahal kalau boleh Aku katakan akan isi hati
ini, pesona Kairo telah terlupakan karena Allah telah menggantikan
sesosok pangeran yang selama ini ku impikan. Semua ini lebih dari
sekedar kado terindah dari Allah.
Engkau telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan
tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan.
Segala ketentuannya tak dapat dirubah. Namun, engkau adalah manusia
yang menjalankan dengan berbagai pilihan.
InsyaAllah, hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, sabar atas segala
kehendakNya dan mencoba memikirkan baik buruknya cinta “terlarang”,
Allah akan selalu menjaga kita. Menjaga cinta kita untuk yang berhak.
Dialah Allah, sutradara terbaik dimuka bumi. Segala skenarionya adalah
yang terindah meskipun harus mengais makna dalam kesedihan. Setiap
manusia ditakdirkan memiliki cinta. Hanya Allah sebaik-baik pemberi
cinta. Hanya Allah sebaik-baik landasan untuk mencintai.
Alhamdulillah hirabbil alamin.......
By : Annisa Pelita Hati
Bumi Allah, 29 April 2012